Proses perkawinan burung anis

Proses perkawinan diawali dengan timbulnya birahi antara kedua pasangan anis. Tanda-tanda umum yang dapat diamati adalah adanya perubahan sikap anis jantan yang selalu berusaha memikat betina melalui berbagai macam car, seperti menggerak-gerakkan ekor atau melalui kicauan. Sedang burung betinanya diam dan berkesan apatis. Proses ini akan terus berlanjut hingga pada akhirnya kedua burung bercengkrama dan saling berkejaran untuk saling bercumbu.

Dalam proses perkawinan, induk betina akan menghasilkan telur sebanyak 2-4 butir. Ukuran telur sebesar burung perkutut, warnanya kuning. Telur-telur tersebut selanjutnya akan dierami oleh induk betina. Sementara itu induk jantan bertugas menjaga dan mencukupi segala kebutuhan pasangannya mulai dari mengerami telur hingga minggu pertama merawat anak.

Untuk menjamin perkembangan, pertumbuhan dan kesehatan anak serta induk maka jumlah serta mutu pakan harus baik. Selain itu, juga harus menjaga sanitasi dan ketenagnan lingkungan kandang. Sebagian besar burung mempunyai masa mengasuh anak secara penuh selama tiga hari berturut-turut. Pada umur ini keadaan anak sangat rawan dan masih membutuhkan perawatan induk.

Sarang untuk penangkaran burung anis

Untuk menjamin berhasilnya penangkaran, maka anis perlu diadaptasikan dengan lingkungan yang baru. Adaptasi dilakukan dengan cara mengajak bicara, bersiul dan memberikan hadiah ketika burung mampu melakukan apa yang kita kehendaki. Dengan perlakuan ini diharpakan burung tidak takut lagi, tidak kagetan, serta cepat jinak.

Fungsi utama sarang adalah sebagai tempat untuk meletakkan telur, mengerami telur dan merawat anak. Sarang dapat dibuat dari kotak kayuatau anyaman rotan yang banyak tersedia di kios-kios penjualan perlengkapan burung. Untuk memabantu burung agar mudah mempersiapakan dan membuat sarang maka dia atas sarang atau lantai kandang disediakan ijuk, daun cemara atau jerami kering.

Biasanya burung akan memunguti dan menata sendiri ijuk dan daun cemara tersebut menjadi sarang ketika musimberbiak tiba. Selain itu, sarang dapat dibuat dengan bantuan manusia. Sarang biasanya dibuat dari anyaman rotan yang didalamnya diberi ijuk, jerami, atau daun cemara. Untuk membentuk lengkungan cawan dapat digunakan alat bantu berupa bola lampu bekas.

Sarang anis di habitat aslinya berbentuk cawan yang diletakkan diatas pohon, semak-semak atau tanggul-tanggul bambu yang terletak tidak jauh dari tanah. Sarang terletak pada ketinggian sekitar 50 cm dari permukaan tanah.

Kandang penangkaran burung anis

Dalam pembuatan kandang penagkaran hal-hal yang perlu diperhatikan adalah penyiapan sarana kandang, seperti sarang, wadah pakan dan minum, serta tenggeran.

Ukuran kandang penagkaran, lebar 45 cm, panjang 250 cm serta tinggi 160 cm. Desain kandang sebaiknya 40 % tertutup melindungi sarang, wadah pakan, dan wadah minum. dinding kandang biasanya terbuat dari kawat yang memiliki ukuran 1 mm2.

Lantai kandang sebaiknya dibuat agar selalu basah atau becek. Bahan penyusung lantai kandang terdiri dari kotoran kambong, pasir dan sedikit sekam. Dipilihnya kotoran kambing karena bahan ini merupakan media lingkungan yang mudah di hidupi cacing. Selainitu,  kotoran kambing tidak gampang memadat sehingga akan memudahkan burung mengorek dan mengais cacing yang ada di lantai kandang, terutama bila lantai kandang tampak mengering. 

Sedang untuk mencukupi persediaan cacing secara berkala dapat ditambahkan cacing ke lantai kandang. Di dalam kandang sebaiknya disediakan kolam kecil dan tumbuh-tumbuhan/dahan kering. Seperti bogenvil, beringin, asam atau jambu air. Dahan itu digunakan untuktempayt hinggap, berjemur serta menempatkan sarang.

Sifat, karakter, dan kebiasaan burung anis

Anis mempunyai kebiasaan mencari makan dipermukaaan tanah, seperti jangkrik, cacing, rayap atau serangga-serangga. Berdasarkan hal ini maka ada sebagian orang menyebut anis sebagai burung tanah. Untuk itu, penyediaan pakan berupa cacing tanah harus selalu terpenuhi dan dalam jumlah yang cukup. Kebutuhan pakan tambahan (extra fooding) sekitar 5-10 ekor cacing untuk setiap burung per hari. Bila sulit memperoleh cacing dapat diganti jangkrik atau ulat daun yang masih muda. Selain itu, anis juga termasukb burung yang suka pada tempat yang teduh, rindang, agak lembap dan senang bermain air.

Dalam mencari pasangan kebanyakan burung akan memilih sendiri jodohnya. Sebagai tanda unruk mengenali bahwa burung tersebut jodoh adalah sebagai berikut:
  • Melakukan gerakan dan perilaku kawin, seperti berkejaran, dan bercengkrama.
  • Melakukan persiapan dan pembuatan sarang

Cara penentuan calon induk burung anis untuk diternakkan

Ketepatan dalam menentukan jenis kelamin induk anis mutlak diperlukan, sebab hal ini mempengaruhi keserasian dan kemampuan untuk berkembang biak. Untuk mendapatkan pasangan anis yang diinginkan dapat dilakukan beberapa cara. Salah satu cara yang umum ditempuh adalah pemeliharaan induk sejak muda. Melalui langkah ini akan diperoleh beberapa keuntungan, antara lain burung tidak mudah stress. Selain itu, induk sebaiknya berasal dari burung yang mempunyai daya tahan tubuh yang cukup baik, serta memiliki kemampuan bertelur dan daya tetas telur yang tinggi.

Dasar pemilihan bibit dilakukan dengan melihat sifat induk yang diturunkan pada generasi atau anak berikutnya. Untuk mengetahui sifat yang diturunkan ini dapat dilihat dari penampakan luar (eksterior) burung yang meliputi hal-hal berikut:
  • Anatomi tubuh yang meliputi bentuk kepala, kaki, sayap, paruh, serta warna bulu.
  • Perilaku harus menampakkan ciri burung sehat, seperti aktif, gesit dan tangkas.
  • Volume suara harus bersih dan besar.
Untuk menangkarkan anis tentunya harus ada induk jantan dan betina. Dalam membedakan jenis kelamin dapat dilakukan pengamatan visual yakni dengan memperhatikan ciri-ciri yang menonjol. Rata-rata burung yang siap ditangkarkan adalah burung dengan umur telah mencapai 2-3 tahun.